Tinuviel's log
Tinuviel melangkah memasuki gedung markas Wings of Dragons, dengan satu tujuan pasti. Baru saja sang Elf menerima panggilan dari sang resepsionis utama guild, Glenn. Mengingat panggilan dari Glenn hampir selalu berarti tugas, Tinuviel pun datang.
Glenn, yang seperti biasa duduk di mejanya di lobby utama gedung, segera menyadari kedatangan Tinuviel. “Hoi!” panggilnya lantang. “Mahluk cantik favoritku, kemari.”
Wajah Tinuviel membeku seketika. Glenn harus bersyukur, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan saat ia berteriak seperti itu. Jika tidak, ingin rasanya Tinuviel membungkam mulut Glenn dengan cara paling kasar yang mungkin ada.
Namun sang Elf membiarkan pikiran itu tetap terpendam, sementara ia melangkah mendekati Glenn yang tersenyum lebar kepadanya. Bagaimanapun juga, Tinuviel masih berhutang nyawa kepada Glenn. Lagipula, Glenn lebih berguna bagi semua orang dalam keadaan hidup.
“
“Kalau kubilang aku kangen ketemu denganmu?” balas Glenn.
Tangan Tinuviel terhenti. “Aku pulang saja,” sang Elf berkata sembari membalikkan badan.
“Bercanda,” sela Glenn cepat. Pemuda berambut tipis itu mengibas-ngibaskan tangan, mempersilakan Tinuviel untuk duduk. “Lagian, aku doyannya wanita seratus persen, kok. Kamu masih tetap kaku, ya?” ujar pemuda itu terus menggoda Tinuviel.
Tinuviel memang terkenal di antara para anggota Wings of Dragons. Sang pemuda Elf dengan kecantikan yang mampu menyaingi wanita.
Tinuviel memandang tajam pemuda berambut tipis itu. “Bukan bermaksud nggak sopan kepada senior Wingers,“ ujarnya, menarik kursi yang sudah dipegangnya. Sang Elf lalu duduk santai di hadapan Glenn, sang resepsionis Wings of Dragons. “Anda sendiri masih tetap cerewet seperti biasa.”
Glenn tertawa kecil mendengar balasan itu. Sesaat kemudian, sang resepsionis menghela nafas seakan kecewa. “Padahal kalau di Easy Breeze, sikapmu baik sekali ke orang lain. Kenapa tidak padaku? Apa karena aku tahu rahasiamu?”
“Mungkin.”
“Kalau gitu, bagaimana kalau sekalian kusebarkan saja rahasiamu kepada Wingers lain? Apa sikapmu kepadaku akan berubah?”
Belum lama Tinuviel bergabung dengan kelompok petualang itu. Belum lama juga sang Elf tinggal menetap di
“Sangat berubah,” jawab Tinuviel penuh nada mengancam. Sepasang bola mata coklatnya menusuk tajam ke arah Glenn. Namun detik berikutnya, sang Elf tersenyum dengan wajah tulus kepada pemuda di hadapannya. Sikap bermusuhan yang Tinuviel tunjukkan sebelumnya pun seolah menguap di udara. “Untuk mencegah hal itu terjadi, bisa anda katakan alasan memanggilku hari ini, Tuan Glenn?”
Kembali Glenn tertawa mendengarnya. “Dasar mahluk seribu wajah. Bagaimana, sudah betah dengan
“Lumayan.”
“Tidak ada yang ingin kau tanyakan atau bicarakan denganku?”
“
“Lalu?” kembali Glenn bertanya saat Tinuviel mengambil jeda panjang di akhir kalimatnya.
“Lalu kenapa anda memberiku pekerjaan di salah satu tempat paling ramai di
Glenn tertawa. “Karena terkadang, tempat terbaik untuk menyembunyikan sesuatu adalah tempat yang paling mencolok. Di
Tinuviel mendengus. “Terima kasih telah mengkhawatirkan nyawaku,” ujarnya penuh sarkasme.
“Tentu aku khawatir!” sahut Glenn cepat. “Tapi menurutku, menaruhmu di Easy Breeze lebih baik daripada menyembunyikanmu di tempat paling terpencil sekalipun. Semakin sering orang melihatmu, mereka akan semakin terbiasa. Dengan begitu, tak akan ada yang curiga atau menaruh minat berlebihan, bukan?”
Tinuviel tak menyahut. Sang Elf menyilangkan tangan di depan dadanya, menunggu Glenn melanjutkan pembicaraan mereka.
“Lagipula, bukan Tinuviel yang musuhmu cari,” lanjutnya. “Kamu sendiri cerita, berhasil lolos dari mereka dengan penampilan seperti itu. Berhentilah khawatir. Mereka nggak akan mencarimu sampai kemari.” Glenn menatap pemuda Elf di hadapannya dengan wajah serius. Tidak seperti Glenn yang biasanya selalu tersenyum tanpa peduli waktu, tempat maupun suasana.
“Selain itu, apa nggak capek? Terus khawatir dan bersembunyi?” tanya Glenn kemudian. Tinuviel hanya mengangkat bahu seolah tak peduli. Ekspresi yang bertolak belakang dengan kenyataan yang tengah sang Elf rasakan.
Glenn membalas dengan gelengan kepala sebelum mengeluarkan selembar kertas dari laci mejanya. “Nih.
“Apa ini?” Tinuviel bertanya sementara tangannya meraih kertas yang Glenn sodorkan.
“Kertas.”
Tinuviel menatap dingin ke arah Glenn, yang masih memandangnya dengan wajah serius. “Bukan itu yang kutanyakan. Apa ini?” ulang sang Elf sembari mengibaskan kertas itu di hadapan Glenn.
“Daftar korban. Mereka Wingers lama. Semuanya menghilang, atau terjebak masalah dalam waktu dekat ini. Mungkin, sebagian malah sudah mati dan terkubur entah di mana. Aku khawatir, ini adalah tindakan sabotase terhadap guild kita.”
Tinuviel bergumam lirih. Matanya terus membaca kedua belas nama yang terpampang di hadapannya, masing-masing disertai informasi singkat tentang kebiasaan mereka. Tiba-tiba, Tinuviel teringat akan sesuatu.
“Seingatku, kemarin ada Wingers yang menyebutkan kematian tiga anggota senior baru-baru ini,” ujar sang Elf.
“Kesalahan berita,” sahut Glenn. “Sudah dilakukan konfirmasi bahwa mereka tidak meninggal. Tapi nasib mereka sendiri belum jelas hingga saat ini.”
Kembali Tinuviel bergumam menyahuti kata-kata Glenn.
“Aku minta, kau selidiki tentang mereka dalam daftar itu. Cari tahu apapun yang bisa kau temukan. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka,” lanjut Glenn menambahkan. “Bagaimanapun juga, ini
“Akan kulakukan, selama tugas ini tak mengharuskan aku pergi terlalu jauh.”
“Nggak terlalu jauh. Yang paling jauh hanya sekitar… satu jam dari gerbang
“Baguslah.”
Glenn mengerutkan alisnya. “Kenapa? Takut, atau malas?”
“Saat ini aku belum bisa percaya pada siapapun,” balas Tinuviel. “Dan aku nggak cukup bodoh mencari tugas jarak jauh, saat aku harus bekerja sendirian.”
“Wah, berarti aku istimewa, dong. Buktinya, kamu percaya kepadaku,” sahut Glenn cepat, kembali kepada sifatnya yang ceria dan santai. Wajah resepsionis berambut tipis itu tersenyum lebar ke arah Tinuviel.
Tinuviel melipat kertas di tangannya tanpa melihat ke arah Glenn. “Terpaksa,” ujarnya singkat. Sesaat kemudian, kertas berisi informasi itu telah tersimpan rapi di saku celana sang Elf.
“Dingin sekali tanggapanmu…” gumam Glenn dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Tanpa menyahut, Tinuviel bangkit dari kursinya dan melangkah pergi. “Segera kulaksanakan tugas ini. Tunggu saja… minggu depan.”
“Tentu aku akan setia menunggumu,” sahut sang resepsionis. “Oh ya, sekedar saran,” lanjutnya, menghentikan langkah Tinuviel tak jauh dari meja tempat Glenn berada. “Akan sangat mencolok jika seorang lelaki cantik berkeliaran mencari informasi di
Tinuviel memicingkan mata, menatap tajam ke arah Glenn. “Apa maksudnya itu?”
“Ya begitu,” jawab Glenn. “Kusarankan kau… menyamar,” lanjutnya sembari menyeringai lebar saat melihat Tinuviel semakin terganggu. Tinuviel sendiri hanya bergumam singkat dan kembali melangkah meninggalkan gedung Wings of Dragons.
“Mampir ke sini kalau sedang menyamar, ya!” panggil Glenn mengiringi kepergian Tinuviel. Sementara sang Elf tetap berlalu tanpa menyahut.
* * *
Seminggu kemudian, Tinuviel kembali menemui Glenn di markas utama Wings of Dragons. Sama seperti sebelumnya, sang Elf datang setelah memastikan tak ada orang selain Glenn di tempat pertemuan mereka. Dan sama seperti sebelumnya, Glenn pun menyambut kedatangan Tinuviel dengan hangat.
“Hai, cantik!” panggil sang resepsionis saat Tinuviel mendekat.
Tinuviel sendiri tak menanggapi sapaan Glenn. “Laporan siap,” ujarnya singkat.
“Sebelum itu,” sahut Glenn, memberikan isyarat menyilakan Tinuviel duduk di hadapannya. “Ayo ngobrol sedikit,” lanjut pemuda berambut tipis itu saat Tinuviel setelah sang Elf duduk di kursi yang tersedia.
“Apaan?” tanya Tinuviel, tak sedikitpun menunjukkan minat.
Glenn tak segera menyahut. Pemuda resepsionis yang memang terkenal akan kegemarannya bercanda itu hanya memandangi Tinuviel, sementara sebuah senyum lebar menghias wajahnya. Waktu berjalan lambat, seakan sengaja menyiksa Tinuviel. Glenn sendiri terlihat cukup bahagia duduk bertopang dagu sembari memandangi Elf di hadapannya.
Akhirnya, Tinuviel tak sanggup lagi berdiam diri lebih lama. “Kalau anda tidak juga bicara…”
“Kamu cantik juga,” potong Glenn segera. “Dalam rok panjang biru, blus putih lengan panjang, serta kerudung bunga-bunga menutupi rambutmu yang terkuncir lucu. Sayangnya, kalau buatku, jerawat buatan di wajahmu merusak kecantikan itu.”
Wajah sang Elf berubah dingin, bagai seseorang yang melihat dewa maut muncul di hadapannya. “Kamu melihatku?”
“Begitulah,” jawab Glenn, masih tetap tersenyum lebar. “Tenang saja, nggak usah khawatir seperti itu. Cuma aku yang tahu, kok,” lanjutnya kemudian.
Tinuviel menghela nafas panjang. Sang Elf mengetukkan jemarinya di atas meja kerja Glenn. “Padahal sudah kupastikan tak akan ada yang melihatku.”
“Sudah kubilang, nggak usah khawatir berlebihan. Cuma aku yang melihatmu, kok,” balas Glenn.
“Kalau anda bisa melihatku tanpa kuketahui, orang lain juga bisa melakukannya. Ini berarti, aku harus lebih hati-hati lagi nanti. Dan aku harus bersiap untuk hal buruk dalam waktu dekat.”
“Oi, oi,” Glenn menyela cepat. Pemuda resepsionis itu mengulurkan sebelah tangan ke arah wajah Tinuviel. Sayangnya, sang Elf cukup sigap menghindar sebelum ujung telunjuk Glenn menyentuh dahinya. “Kasihan wajah cantikmu itu kalau kau terus khawatir. Nanti kau cepat keriput!”
Tinuviel tak menyahut.
Glenn pun kembali menarik tangannya seraya menggeleng singkat. “Nggak ada yang sadar selain aku, sudahlah. Terus terang aku ngaku, aku sengaja menguntitmu hingga akhirnya bisa melihatmu dalam dandanan itu.”
“Untuk apa?” Tinuviel membalas dengan nada dingin.
“Habis, sosok cantikmu dalam pakaian wanita itu terlalu sayang buat dilewatkan!” sahut Glenn. “Tenang saja, aku yakin cuma aku yang melihatmu. Dan aku janji, nggak akan kuulangi lagi,” lanjut sang resepsionis. Glenn pun bernafas lega melihat sikap dingin Tinuviel sedikit mengendur. “Satu pertanyaan, kenapa waktu itu kau terlihat jerawatan?”
Sang Elf mengangkat bahu. “Bagian dari penyamaran.”
“Sayang, bukan? Padahal kamu bakal cantik tanpa jerawat-jerawat itu.”
“Inti dari menyamar adalah membuat orang tak mengenali dirimu,” ujar Tinuviel. “Dan dalam menjalankan tugas darimu, tujuanku bertambah. Aku harus memastikan tidak ada yang mengingatku. Dengan dandanan seperti itu, aku tidak akan terlihat berbeda dengan kebanyakan wanita lain.”
Sang Elf melipat lengan di depan dadanya. “Semakin aku tidak mencolok, semakin baik, bukan?”
Glenn mengangguk setuju.
“Sebenarnya,” sambung Tinuviel. “Hari pertama penyamaran, aku tidak memakai make-up apapun. Hasilnya, banyak yang tersenyum dan menoleh ke arahku. Bahkan, penjaga toko yang kudatangi memaksa ingin tahu namaku. Merepotkan saja,” sang Elf menggerutu, mengakhiri penjelasan panjangnnya.
Di hadapannya, Glenn tertawa. “Wah, wah, sayang sekali aku nggak lihat langsung. Begini saja, bagaimana kalau lain kali kau berdandan khusus untukku? Tanpa jerawat tentunya, agar aku bisa mengagumi kecantikanmu,” ujar sang resepsionis, memamerkan senyum lebar kepada Tinuviel.
“Memangnya kau kira aku semacam waria panggilan, ya?” sahut Tinuviel pedas. Jawaban yang membuat Glenn tertawa semakin keras. Dan tawa itu membuat sang Elf merasa semakin kesal.
“Kalau memang nggak berminat dengan laporan dariku, aku pulang saja,” lanjut Tinuviel saat Glenn seolah tak ingin berhenti tertawa.
Glenn menangkupkan kedua tangannya, memohon maaf kepada Tinuviel. “Aku
“Bagian itu dari diriku sudah lama mati,” sahut Tinuviel serius. Wajah sang Elf pun terlihat serius menatap Glenn yang masih tersenyum ke arahnya.
“Bukan mati, hanya tertidur. Seperti dongeng putri tidur yang menunggu ciuman dari sang pangeran.”
Tinuviel tertawa meremehkan. “Dilihat dari manapun, aku nggak pantas jadi seorang putri.”
“Tapi
“Aku ke sini bukan untuk bicara melantur, tapi memberikan laporan, mau tidak?” tanya Tinuviel tanpa mengindahkan protes Glenn.
Glenn menghela nafas, menyerah. “Baiklah, baiklah. Apa yang kamu dapat?”
Tinuviel pun memperbaiki posisi duduknya. Sembari berdehem kecil, sang Elf mengeluarkan selembar kertas lusuh dari saku belakang celananya. Glenn mengenali kertas itu. Kertas yang sama dengan yang ia berikan kepada Tinuviel seminggu sebelumnya.
“Busyet!” ujar Glenn. Pemuda resepsionis itu menunjuk ke arah kertas kumal di tangan sang Elf. “Itu bukannya kertas dariku?”
“Iya,” sahut Tinuviel singkat. Dengan wajah tak mengerti, sang Elf membolak-balik kertas yang masih terlipat itu.
Jawaban yang membuat Glenn semakin merasa tak percaya. “Masa kamu mencatat informasi yang kamu dapat di situ?”
“Memangnya kenapa?”
“Kau nggak punya alat tulis lain?”
“Belum beli. Belum merasa perlu,” jawab Tinuviel.
Glenn menggelengkan kepala. “Perlu kubelikan untukmu?”
“Tidak perlu, terima kasih. Besok saja aku cari,” sahut Tinuviel kesal. “Kalau terus kau potong begini, kapan laporannya kuberikan?”
“Oh ya, silakan.”
“Lagipula,” ujar Tinuviel sembari membuka kertas di tangannya dengan hati-hati. Melihat keadaan kertas itu, Glenn merasa yakin sang Elf telah membuka dan melipatnya kembali puluhan kali. “Aku tidak mencatat apapun, kok. Ini cuma sekedar untuk membantu mengingat.”
Glenn mengangguk tanda mengerti, walau kerut di kening sang pemuda berkata sebaliknya.
“Nah, aku sudah mencoba menanyai beberapa Wingers tentang orang-orang ini,” lanjut Tinuviel sementara matanya membaca dua belas nama yang tercantum dalam kerta lusuh itu. “Sebagian berkata kalau orang-orang ini memang pencari masalah. Jadi, tidak heran kalau sekarang masalah datang mencari mereka. Aku menangkap perasaan bahwa kedua belas orang ini tidak terlalu disukai oleh sesama anggota guild.”
Tinuviel melirik sekilas ke arah Glenn sebelum melanjutkan laporannya. “Beberapa orang lain berpendapat bahwa aku terlalu memperbesar masalah. Kalau memang belum terbukti terjadi sesuatu terhadap kedua belas orang ini, berarti memang belum terjadi apa-apa terhadap mereka, bukan? Menurut mereka, semua ini pasti bukan masalah besar,” lanjut sang Elf, sementara jemarinya memainkan lembaran kertas tersebut.
“Segelintir Wingers yang kutanya sepertinya tidak peduli,” ujar Tinuviel kemudian. “Mereka cuma menjawab sambil lalu, kalau mungkin orang-orang ini sedang sibuk mengerjakan petualangan lain.”
“Andai mereka tengah menjalankan petualangan lain, aku pasti tahu,” sahut Glenn dengan nada pasti. “Dan karena aku nggak tahu, aku khawatir terjadi hal buruk terhadap mereka.”
“Orang baik.”
Glenn tertawa. “Mungkin. Mungkin juga, aku khawatir karena kehilangan mereka berarti kehilangan juga bagi pemasukan Wings of Dragons.”
“Kalau begitu, aku tidak jadi memujimu,” balas Tinuviel, membuat tawa Glenn berderai semakin lepas.
“Apa lagi yang kau dapat selain itu?” Glenn bertanya setelah puas tertawa.
“Yang lebih menarik buatku adalah informasi yang kudapat dari orang-orang luar,” jawab Tinuviel. Ditegakkannya punggungnya sembari menatap kertas lusuh yang ia pegang. “Kutemukan satu kesamaan. Semua orang ini tiba-tiba saja menjadi kaya. Semua terjadi dalam waktu berdekatan dengan waktu mereka menghilang. Apa kira-kira kau tahu dari mana mereka mendapat kekayaan itu?”
Glenn menggeleng. “Aku nggak terlalu tahu tentang perbendaharaan, itu bukan urusanku. Tapi, harusnya mereka mendapat uang seperti itu dari berpetualang.”
“Seharusnya memang seperti itu, tapi kita tidak tahu lagi,” balas Tinuviel. “Kesamaan lain adalah, mereka semua seolah berusaha menyembunyikan kekayaan mendadak ini. Tidak seperti petualang umumnya yang menghabiskan uang demi perlengkapan yang lebih baik, mereka memilih untuk menanamkan kekayaan mereka sebagai modal.”
Tinuviel kembali melipat kertas lusuh yang semenjak tadi dipegangnya. “Sebagian dari mereka malah menanam modal di beberapa tempat sekaligus. Buatku sih, itu tindakan mencurigakan. Seperti berusaha menghilangkan jejak.”
Glenn mengangguk perlahan, berusaha mencerna semua informasi yang Tinuviel berikan. “Tetap nggak ada kejelasan ke mana mereka menghilang, ya?”
“Belum ada, bukan tidak ada,” balas sang Elf optimis. Dengan santai, Tinuviel kembali menyimpan kertas informasi itu. “Kalau boleh sih, akan kuselidiki lebih lanjut.”
“
“Salah satunya adalah anda, Tuan Glenn. Kalau boleh, aku ingin melihat catatan petualangan yang terakhir kali melibatkan kedua belas nama ini. Anda pasti punya, bukan?” ujar Tinuviel. “Selain itu sih, aku rasa Bank
Sang Elf beranjak bangkit dari kursinya. “Nah, untuk semua itu, aku perlu ijin serta bantuan anda. Bagaimana? Atau anda ada usulan lain?”
“